Fragmen dari perjalanan pulang
Sore itu, aku sedang menghabiskan waktu di dapur rumah sewaanku. Mencuci piring-piring kotor dan menunggu rempah mandiku siap digunakan. Langit saat itu gelap–dan hujan mulai turun dengan cukup deras. Aku merasakan percikan air menimpa wajahku–halus tapi tak salah.
Aku mendongak ke atas–ke langit-langit dapurku, dan di sana aku melihat sebuah lubang yang menganga.
Bukan lubang yang besar, tapi ada.
Ini bukan lubang yang baru, bukan karena hujan yang turun sore ini.
Lubang itu sudah pernah berusaha ditutup, dengan lakban dan dengan janji. Saat itu cukup, karena ada asa terselip diantaranya–ada untaian kata yang menunjukkan arah. Hanya sementara, katanya. Aku hanya tak pernah bertanya, “Sementara itu sampai kapan?”
Aku membiarkan lubang itu diam–sangat lama. Kupikir dengan tak melihatnya, lubang itu tak pernah ada. Kupikir dengan terus menunduk, jejak-jejaknya akan tetap ada di sana. Sore itu, saat aku menunduk dan menatap lantai, aku melihat percikan air itu semakin melebar. Seberani apapun aku, aku tahu bahwa aku tak akan bisa naik ke atas sana sendirian.
Aku tahu, aku butuh bantuan. Tapi, aku juga tahu, aku tak pernah benar-benar mencari bantuan selain darinya.
Aku berdiri di dapurku itu cukup lama, sampai air rempahku mendidih. Hujan telah turun dengan amat deras. Dan, untuk pertama kalinya, aku bertanya–apakah yang benar-benar kutunggu adalah atap yang utuh, atau seseorang yang datang menepati janji?
Mungkin, yang perlu kutambal bukan atapnya, melainkan keyakinanku bahwa aku harus menunggu seseorang untuk melakukannya.
Hujan masih tetap turun. Suaranya menggema di atap dapurku, sama kerasnya dengan gaung dalam hatiku. Tapi aku sadar, setiap perhentian dalam hidupku adalah ruang untuk menarik napas—sebelum kembali melangkah.

Tinggalkan komentar