Tentang sebuah buku, dan keberanian untuk membuka halaman pertama
Aku membayangkan akan membuka buku ini di rumahku. Di atas ranjang, diiringi suara hujan atau suara televisi dengan bahasa yang tidak kupahami artinya sebagai latar belakang. Tapi ternyata, aku membukanya di ruang kerjaku. Di antara jadwal, suara langkah kaki, dan tumpukan kertas di sekitarku.
Mungkin, beginilah cara buku ini memperkenalkan dirinya kepadaku — bukan sebagai tempat untuk melarikan diri, tapi sebagai sesuatu yang mau tinggal bersamaku, di antara kehidupan yang riuh dan terus berjalan.
Beberapa tahun lalu, pada saat dunia berhenti untuk sejenak, aku membeli dua buah buku. “Calm” dan “Mindfulness”. Aku membelinya karena ingin merasa tenang. Tapi ternyata, aku belum cukup berani untuk membacanya.
Ada waktu-waktu ketika kata tenang terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk disentuh. Bukan karena aku tidak menginginkannya, tapi karena di dalam diriku, masih ada terlalu banyak hal yang belum mau diam.
Aku memilih “Mindfulness” lebih dahulu, karena aku membutuhkannya untuk bertahan hidup, untuk kembali berdiri di atas kedua kakiku. Sedangkan “Calm”, terasa seperti tentang menemukan diriku kembali.
Jadi buku ini menunggu.
Di sudut rak, di antara buku-buku lain yang datang dan pergi, ia tetap di sana — seperti seseorang yang tidak bertanya kapan akan dibuka, hanya percaya bahwa suatu hari aku akan siap.
Ia ikut pindah rumah, ikut berganti musim, ikut melihatku bertahan melalui hari-hari yang tidak selalu tenang. Sampulnya tidak pernah berubah, halamannya tetap sama, mulai menguning — dan aku yang pada akhirnya berubah.
Hari ini, aku akhirnya mengambilnya.
Bukan karena hidupku sudah sepenuhnya tenang, melainkan karena aku mulai punya cukup keberanian untuk duduk bersama diriku sendiri.
Untuk membuka halaman pertama, tanpa terburu-buru mencari jawaban.
Dan ketika aku melakukannya, yang kutemukan bukan kalimat panjang atau nasihat.
Hanya sebuah pertanyaan yang tinggal di dadaku:
“Apa itu tenang bagiku?”

Mungkin, saat ini aku belum punya jawabannya. Tapi aku tidak membaca untuk memperbaiki diriku. Aku membacanya untuk belajar bagaimana tinggal bersamaku, apa adanya.
Aku belum membacanya sampai selesai.
Dan untuk pertama kalinya, itu tidak apa-apa.

Tinggalkan komentar