~ Tentang halaman yang membuatku berhenti membaca ~
Ada jendela yang kubiarkan terbuka, bukan hanya untuk angin atau suara hujan yang lewat, tapi untuk hal-hal kecil yang sering tak sempat diperhatikan. Cahaya sore yang jatuh di lantai. Bayangan daun di dinding. Kalimat dalam buku yang tiba-tiba terasa seperti sedang berbicara langsung kepadaku.
Ada halaman-halaman dalam buku yang tidak bisa langsung kulewati.
Bukan karena bahasanya sulit, atau ceritanya terlalu rumit.
Tapi karena di sana, aku menemukan sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan hidupku sendiri.
Ada buku yang mampu membangkitkan semangat si pembaca saat berada di titiknya yang paling rendah, saat membutuhkan rangkulan hangat yang mungkin tidak ia didapatkan.
Ada buku yang dapat membangkitkan memori hangat si pembaca tentang masa kecil.
Ada pula yang memantik impian tentang masa depannya.
Aku membaca bukan untuk mengejar halaman terakhir.
Aku membaca untuk tinggal sebentar — di satu perasaan, di satu potong cerita, di satu ruang sunyi yang membuat nafasku lebih pelan dari biasanya dan membuatku berhenti walau sejenak
Ruang ini lahir dari kebiasaan itu.
Dari halaman-halaman yang tidak selesai kubaca.
Dari buku-buku yang tertutup kembali karena hatiku belum siap melangkah ke bagian berikutnya.
Mungkin di sini aku akan menulis tentang sebuah buku.
Atau mungkin hanya tentang satu kalimat kecil di dalamnya, yang ikut pulang bersamaku, duduk di sudut kepala, dan tidak mau pergi.
Kalau kamu singgah di sini, kamu tidak harus membaca semuanya.
Cukup satu bagian. Satu baris. Satu napas.
Kadang, itu sudah lebih dari cukup.
“Once you have read a book you care about, some part of it is always with you”
-Louis L’Armour
— Si Kucing Putih

Tinggalkan komentar