Tentang ‘Kemuning’ di depan rumahku
Suatu pagi, aku terbangun dari tidurku begitu saja. Aku bangun dalam keheningan. Tanpa bunyi alarm. Kulihat, cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamarku yang temaram, melalui sela-sela gorden jendelaku. Aku duduk–bangun dan melangkah untuk membuka pintu rumahku.
Tadi malam hujan.
Saat kubuka pintu itu, kupikir pagi ini hanya akan membawa aroma sisa hujan. Tapi, yang tertangkap indraku bukan hanya itu, ada wangi yang tak biasa–bukan wangi tanah basah, bukan pula sisa malam.
Aku berdiri lebih lama di ambang pintu, membiarkan indra penciumanku berjalan lebih dulu sebelum kakiku ikut melangkah.
Dan, disana di ujung halaman yang tak luas itu, aku menemukannya.
Bunga Kemuningku mekar.

Dia tidak mekar dengan gegap gempita. Dia mekar dalam diamnya malam. Setenang kuncup yang tahu pasti bahwa esok kelopaknya akan merekah. Warnanya putih, kecil, dan bersih. Seolah dia hanya mengenal pagi bukan dunia. Wanginya lembut tapi tulus–cukup untuk memenuhi udara pagi itu.

Ada sesuatu dalam wangi itu yang terasa akrab. Seperti ingatan yang lewat sebentar–tidak mengganggu, tidak juga untuk tinggal. Hanya menyapa, lalu membiarkanku kembali pada momen itu. Pada bungaku ini.
Aku tahu, mungkin sore nanti kelopak-kelopaknya akan jatuh. Tapi, di waktu itu ia mekar sepenuhnya. Tanpa takut.
Mungkin hidup memang seperti itu. Ada yang pernah tinggal, lalu pergi. Yang tersisa mungkin tidak selalu luka. Kadang hanya wangi yang mengingatkan bahwa akupun pernah merasakan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Tinggalkan komentar